Pengenalan Bengkel dan Keselamatan Kerja

LAPORAN PRAKTIKUM

PERBENGKELAN PERTANIAN

(Pengenalan Bengkel dan Keselamatan Kerja)

 

Oleh :

 

Nama                                       :           Daniel Olovan S

NPM                                       :           240110090084

 

 

 

 

 

 

 

BENGKEL ALAT DAN MESIN PERTANIAN

JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2011

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini kebutuhan manusia atas bahan pangan semakin meningkat berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk dunia yang semakin banyak. Alat-alat konvensional dalam bidang pertanian kurang dapat memadai untuk selalu meningkatkan produksi bahan pangan tersebut. Maka dibutuhkanlah teknologi yang lebih maju dan modern.

Dalam perancangan alat atau mesin yang lebih modern dibutuhkan lah tempat  serta alat yang layak dan tepat untuk merancang hingga membuat alat seutuhnya. Oleh sebab itu maka pengenalan tentang perbengkelan dalam bidang pertanian menjadi cukup penting. Disanalah dapat dipelajari tentang seluruh jenis dan fungsi alat serta mesin penunjang perbengkelan pertanian.

Setiap alat dan mesin memiliki karakteristik berbeda serta dapat mengancam keselamatan pengguna atau operator selama pengerjaan. Dengan mengetahui jenis dan fungsi alat serta mesin dapat mengurangi resiko kecelakaan. Di dunia industry modern biasanya dibuat sistem keselamatan kerja dengan membuat aturan-aturan atau tata cara pengoperasian alat serta mesin perbengkelan.

Dengan begitu sangat pentingnya cara pengoperasian dan sistem keselamatan kerja maka dilaksanakanlah praktikum “Pengenalan Bengkel dan Keselamatan Kerja”.

1.2 Tujuan

Tujuan dilaksanakan praktikum kali ini adalah :

  1. Memahami fungsi bengkel dan peralatan-peralatan bengkel
  2. Memahami prinsip dasar fungsi masing-masing alat pekerjaan tangan dan mesin-mesin yang mendukung pekerjaan perbengkelan
  3. Memahami pengertian keselamatan kerja selama berada di dalam bengkel
  4. Memahami cara perawatan dan pemeliharaan peralatan bengkel

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bengkel

Pengertian bengkel secara umum tempat (bangunan atau ruangan) untuk perawatan / pemeliharaan, perbaikan, modifikasi alat dan mesin (alsin), tempat pembuatan bagian mesin dan perakitan alsin. Sedangkan Bengkel pertanian merupakan tempat untuk melakukan pembuatan, perbaikan, penyimpanan dan perawatan berbagai alat mesin pertanian. Di dalam bengkel harus terdapat alat-alat dan bahan-bahan yang menunjang kegiatan-kegiatan yang dilakukan di bengkel tersebut. Dan setiap pihak yang bersangkutan dengan kegiatan ini harus memahami masalah keselamatan dan kesehatan kerja.

Perkakas bengkel hampir selalu tersedia pada setiap satuan kehidupan. Bahkan di rumah tangga biasapun kebanyakan akan ditemukan peralatan bengkel minimal, yang digunakan untuk perawatan dan perbaikan barang-barang keperluan rumah tangga. Juga di kantor-kantor, banyak pekerjaan perawatan kecil yang lebih efisien jika dilakukan sendiri oleh karyawan kantor tersebut. Pekerjaan perbengkelan selalu dibutuhkan oleh setiap unit kehidupan. Hal tersebut disebabkan oleh sifat alami barang-barang perlengkapan kehidupan yang selalu membutuhkan perawatan serta mengalami kerusakan dari waktu ke waktu. Dapat dikatakan bahwa pekerjaan perbengkelan hampir selalu menyertai setiap pemilikan barang.

Pada suatu perusahaan yang banyak menggunakan mesin, adanya bengkel adalah hal yang penting. Mesin-mesin perlu dirawat secara berkala, sehingga membutuhkan perkakas perawatan. Mesin-mesin juga mengalami kerusakan dalam pemakaiannya, sehingga diperlukan perbaikan. Jika mesin tidak dirawat dengan semestinya, maka umur pemakaian akan berkurang sehingga merugikan perusahaan. Jika mesin rusak, maka jadwal kegiatan akan terganggu sehingga akan merugikan perusahaan.

Pada suatu usaha tani, seberapapun ukuran usaha taninya, pastilah digunakan alsin pertanian. Untuk usaha tani yang paling sederhana misalnya, dengan alat yang dipakai adalah cangkul dan sabit, setidaknya akan diperlukan perkakas pengasah semisal batu gerinda atau kikir. Untuk usaha tani yang ukurannya lebih besar, dengan alsin yang lebih beragam dan lebih rumit, tentulah diperlukan perkakas yang lebih banyak. Jika alsin yang dimiliki perusahaan tidak terlalu banyak, biasanya lebih efisien dan ekonomis untuk menggantungkan perbaikan pada perusahaan bengkel komersial. Namun jika pemilikan alsin jumlahnya banyak, biasanya pemilikan bengkel sendiri lebih efisien dan ekonomis.

Pada usaha tani dengan skala yang lebih besar, pentingnya bengkel semakin nyata. Alsin dimiliki suatu perusahaan pertanian adalah untuk dapat digunakan dengan semestinya, sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Jika alsin mengalami kerusakan maka jadwal kerja akan terganggu, yang pada giliran selanjutnya akan merugikan secara ekonomi.

Berdasarkan fungsinya Bengkel Pertanian dibagi kedalam:

  1. Bengkel Kecil dan Sederhana ( Small Scale)

Jenis bengkel ini biasanya hanya digunakan untuk melakukan perawatan pada mesin pertanian dan peralatan yang sederhana.

  1. Bengkel Menengah (Medium Scale)

Jenis bengkel ini, selain sebagai tempat perawatan mesin dan alat, biasanya digunakan untuk lapangan atau field-workshop. Yaitu sebagai pusat perawatan bagi distributor alat mesin pertanian untuk mendukung pelayanan penjualan.

  1. Bengkel Ukuran Besar (Large Scale)

Jenis bengkel ini bersifat tetap atau permanen yaitu memiliki fasilitas-fasilitas seperti yang ada pada pabrik produksi skala besar. Fungsi dari bengkel ini sebagai base-workshop dengan ukuran yang lebih besar daripada bengkel medium scale, untuk menangani pekerjaan bongkaran atau bongkar pasang, memperbaiki dan mengganti suku cadang, untuk membuat beberapa bagian mesin dan alat pertanian yang rusak.

2.2 Keselamatan Kerja

Seluruh peralatan dan mesin tentu memerlukan suatu pekerja atau operator untuk mengoperasikannya. Keselamatan seorang atau sekelompok menjadi sangat penting untuk berjalannya sistem kerja dalam bengkel. Semua peralatan tangan dan mesin akan menjadi bahaya bagi pengguan apabila digunakan secara tidak tepat dan sembarangan. Dengan demikian diperlukan manajemen bengkel yang baik.

Manajemen Bengkel merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengatur segala kegiatan bengkel sehingga diperoleh efektifitas dan efisiensi dalam bekerja. Dengan manajemen bengkel yang baik diharapkan dapat mengatur dan menggerakan sumber daya yang ada secara maksimal.

Adapun kondisi yang diharapkan adalah :

  • Suasana nyaman, bersih, tertib dan indah
  • Kondisi peralatan yang baik dan siap pakai
  • Cukup penerangan dan ventilasi
  • Bangunan ruang bengkel terpelihara baik, tidak ada kebocoran, semua pintu dan jendela aman
  • Halaman dan tanaman terpilihara baik
  • Instalasi listrik yang memadai dan aman
  • Sistem sirkulasi peralatan aman dan lancer
  • Instalasi air terjamin, lancar dan bersih
  • Tersedia alat pemadam kebakaran

Adapun Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan ketika bekerja di bengkel, baiknya memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Memakai pakaian dengan pelindung badan yang lengkap seperti jas bengkel, kacamata, pelindung tangan, sepatu, helm.
  2. Bersikap mawas diri terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan.
  3. Bekerja dengan serius, cepat dan teliti, dan tekun.
  4. Tidak melamun dan peduli ketika bekerja.
  5. Jangan berbuat bodoh ketika bekerja.
  6. Beristirahat ketika mulai capek atau bosan.
  7. Hindarkan becanda selama bekerja.
  8. Jangan beranggapan bahwa mesin yang biasa digunakan itu aman untuk kita.

2.3 Tata Letak

Pada setiap bengkel yang ada diharapkan memiliki perencanaan yang mantap, baik perencanaan dalam jangka pendek, menengah maupun dalam jangka panjang. Beroperasinya sebuah bengkel secara efektif dan efisien tidak terlepas dari aspek pengorganisasian. Menurut Oetomo dan Tadjo (1989) perencanaan tata letak adalah merupakan suatu perencanaan lantai, guna menentukan serta menyusun peralatan yang diperlukan oleh bengkel pada tempat yang tepat. Tujuan pengorganisasian peralatan/mesin-mesin menurut Sumaryono (1992) adalah: menciptakan ruang gerak yang aman sehingga dapat mencegah resiko kecelakaan kerja, mempermudah melakukan perawatan dan perbaikan, menciptakan kenyamanan kerja karena keteraturan bengkel, memanfaatkan bengkel agar secara lebih efisien, melaksanakan pengawasan bengkel lebih mudah, dan mempercepat proses produksi karena aliran kerja sudah direncakan secara baik. Selain hal tersebut menurut Robert (dalam Storm, 1979) bahwa kondisi bengkel pada sekolah kejuruan harus disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang ada pada dunia kerja/industri. Kondisi-kondisi dimaksud adalah termasuk penataan ruangan dan kuantitas ruangan yang tersedia. Didalam bengkel permesinan menurut Robert hendaknya tersedia: ruang kepala bengkel, ruang guru instruktur, ruang laboran, ruang kerja/proses, ruang perlengkapan/ penyimpanan alat, ruang penyimpanan bahan, dan ruang ganti pakaian siswa. Selain itu agar praktikan mempunyai perasaan senang, dapat meningkatkan semangat, kemampuan kerja, dan sikap inovatif dan kreatif, maka ruang kerja harus dijaga tetap bersih dan rapi. Selain hal di atas, perencanaan penerangan, ventilasi, suhu, dan kelembapan udara juga harus mendapatkan perhatian. Penerangan yang baik akan dapat mengurangi ketegangan otot mata, memudahkan penglihatan, dan meningkatkan ketelitian dalam bekerja, meningkatkan semangat dan gairah kerja dan dapat mengurangi terjadinya kecelakaan kerja. Pemasangan ventilasi yang baik akan menghasilkan jumlah dan kualitas udara yang segar ke seluruh ruangan yang dapat berfungsi mengurangi dan membebaskan udara dari bau maupun udara yang beracun. Menurut Oetomo dan Tadjo, temperatur dalam ruangan akan dipengaruhi oleh kelembaman dan kecepatan gerak udara.

Oleh karena itu maka pengaturan ventilasi dalam bengkel hendaknya direncanakan dengan sebaik-baiknya agar sirkulasi udara dapat berjalan dengan lancar, sehingga dalam bengkel tidak terjadi udara yang lembab. Penggunaan warna pada bengkel akan berpengaruh terhadap situasi dan kenyamanan kerja. Warna terang menyebabkan obyek atau ruangan tampak besar, warna gelap menyebabkan obyek atau ruangan tampak sempit. Warna-warna yang panas/ mencolok dapat mempengaruhi emosi seseorang, sedangkan warna-warna dingin dapat mengendalikan emosi seseorang. Penataan warna yang berimbang pada bengkel akan dapat meningkatkan keuntungan untuk tujuan belajar bagi praktikan. Selain warna hal lain yang harus diperhatikan dalam perencanaan bengkel adalah faktor kebisingan. Hendaknya diupayakan faktor kebisingan ini sekecil mungkin.

Menurut Sumaryono (1992) perawatan adalah usaha yang dilakukan terhadap mesin/peralatan agar selalu siap digunakan. Perawatan dimaksudkan agar laju kerusakan dapat ditahan serta kerusakan fatal dapat dihindari. Soemantri (1989) menjelaskan bahwa penggunaan sistem perawatan pada dasarnya mempunyai tujuan merawat peralatan/mesin mesin sehingga akan selalu dalam kondisi optimal produktivitasnya dan dapat dipercaya kualitas produksinya, serta mencegah terjadinya kerusakan mendadak pada saat mesin beroperasi.

BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

  1. macam-macam kunci
  • kunci ring
  • kunci pas
  • kunci sok
  • obeng
  • tang
  • kunci mata bor
  1. alat-alat yang digunakan di bengkel
  • alat potong plat
  • Alat-alat kerja bangku (gergaji tangan, kikir, tap, snai, siku-siku)

2.  mesin-mesin yang digunakan di bengkel

  • mesin bubut
  • mesin frais
  • mesin gergaji
  • mesin gerindra

3. las listrik

4. Alat-alat dalam perancangan plat

  • Penitik
  • Penggores

3.1.2 Bahan

  • Plat

3.2 Prosedur Praktikum

  1. Menyimak dan mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh para asisten praktikum.
  2. Mencatat jenis-jenis peralatan dan mesin yang ada dibengkel.
  3. Mengamati dan memahami cara penggunaan dan pengoperasian peralatan atau mesin dalam bengkel yang sebelumnya telah dipraktekan oleh salah satu asisten praktikum.
  4. Menggambar tata letak peralatan dan mesin di bengkel.
  5. Menggambarkan, menganalisis mengenai situasi bengkel yang ada sekarang.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Dalam praktikum ini didapatkan penjelasan mengenai jenis dan fungsi masing-masing peralatan tangan dan mesin yang berada dalam bengkel PEDCA FTIP UNPAD ini. Penjelasan yang diberikan sangat berguna untuk meningkatkan keselamatan kerja pengguna dalam pengoperasian masing-masing peralatan tangan dan mesin tersebut.

4.2 Pembahasan

4.2.1 Bangku kerja

Bangku kerja adalah meja kerja dimana seluruh alat tangan dan bahan yang diperlukan diletakan. Peletakan yang tersusun rapi dapat mempermudah mengingat letak dan mempercepat pengerjaan. Alat tangan yang biasanya disimpan diatas bangku kerja seperti macam-macam kunci, penggores plat, penitik plat, gunting, cutter dsb.

4.2.2 Alat kerja

  • Kunci

Kunci memiliki jenis yang berbeda menurut dan ukuran dan jenis mur. Fungsi kunci adalah untuk mempermudah mengencangkan dan melonggorkan  mur pada mesin. Pengencangan dan pelonggaran mur dengan kunci akan terasa lebih mudah dan mengurangi tenaga pekerja yang keluar. Macam-macam kunci antara lain kunci Inggris , kunci Pas (Open End Wrench),  kunci sock (Socket Wrenchdrives), kunci Ring (Box End), kunci Sok, kunci Ring, kunci Pas Ganda dan lain-lain.

Kunci inggris                           kunci ring                          kunci pas

Kunci L                                                     Kunci sock (leter T)

  • Obeng

Obeng adalah alat tangan yang berguna untuk mengencangkan dan melonggarkan mur atau baut. Jenis obeng ada dua yaitu obeng tambah dan obeng kembang menurut jenis baut.

Obeng min                              Obeng kembang

  • Alat Pemotong Plat

Alat yang digunakan untuk memotong plat sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan dan ditandai oleh penggores dan penitik pada plat.

  • Kikir

Kikir adalah alat tangan yang berfungsi untuk menghaluskan bagian-bagian dari plat atau besi yang tidak rata atau tajam. Kikir digunakan dalam pengerjaan pengepasan, penyetelan, dan penyayatan. Umumnya digunakan untuk meratakan dan membuat siku pada bidang satu dengan bidang yang lain. Bentuk-bentuk kikir diantaranya:

  • kikir pipih
  • kikir rata
  • kikir persegi
  • kikir bulat
  • kikir segita
  • kikir pilar
  • kikir pisau
  • kikir setengah bulat
  • kikir silang

4.2.3 Mesin Kerja

ü  Mesin Bubut

Bubut merupakan suatu proses pemakanan benda kerja yang sayatannya dilakukan dengan cara memutar benda kerja kemudian dikenakan pada pahat yang digerakkan secara translasi sejajar dengan sumbu putar dari benda kerja. Gerakan putar dari benda kerja disebut gerak potong relatif dan gerakkan translasi dari pahat disebut gerak umpan (feeding). Mesin perkakas ini berfungsi untuk membubut permukaan bulat (silindris), membubut penampang benda kerja, membubut ulir, membubut alur, membubut permukaan benda konis dan membubut dalam.  Prinsip gerakan utamanya adalah gerakan berputar. Gerakan inilah yang dimanfaatkan untuk pemotongan logam.

Dengan mengatur perbandingan kecepatan rotasi benda kerja dan kecepatan translasi pahat maka akan diperoleh berbagai macam ulir dengan ukuran kisar yang berbeda dan telah ditentukan. Hal ini dapat dilakukan dengna jalan menukar roda gigi translasi (change gears) yang menghubungkan poros spindel dengan poros ulir (lead screw). Roda gigi penukar disediakan secara khusus untuk memenuhi keperluan pembuatan ulir. Jumlah gigi pada masing-masing roda gigi penukar bervariasi besarnya mulai dari jumlah 15 sampai dengan jumlah gigi maksimum 127.

ü  Mesin Frais

Ditemukan oleh Eli Whitney tahun 1818. Mesin Frais adalah mesin yang paling banyak fungsinya ,yaitu mengerjekan benda kerja dengan permukaan datar ataupun lekukan, pengeboran, pemotongan sudut, celah, roda gigi dan ceruk. Mesin Frais dari segi operasionalnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a Mesin Frais horizontal

b Mesin Frais vertikal

c Mesin Frais serba guna (universal)

d Mesin Frais khusus (special purpose)

Jenis-jenis Frais tersebut diatas memiliki prinsip kerja yang sama. Yang membedakan adalah ukuran benda kerja yang dapat dikerja oleh mesin Freis. Adapun secara umum jenisnya adalah sebagai berikut:

a. Mesin frais tangan

b. Mesin frais datar

c. Mesin frais universal

d. Mesin frais vertical

e. Mesin frais jenis penyerut

f. Mesin frais dari bangku tetap

g. Mesin frais khusus

ü  Mesin Gerinda

Mesin gerinda berfungsi dalam proses menghaluskan permukaan yang digunakan pada tahap finishing dengan daerah toleransi yang sangat kecil sehingga mesin ini harus memiliki konstruksi yang sangat kokoh.

Mesin gerinda dirancang untuk menghaluskan suku cadang yang permukaannya silindris,datar atau permukaan dalam. Pengelompokan mesin gerinda dan amplas adalah sebagai berikut :

a. Gerinda silinder

b. Gerinda sebelah dalam

c. Gerinda permukaan

d. Universal

e. Gerinda perkakas

f. Mesin gerinda specialerinda amplas

ü  Mesin Gergaji

Gergaji merupakan alat perkakas yang berguna untuk memotong benda kerja. Mesin gergaji merupakan mesin pertama yang enentukan proses lebih lanjut. Dapat dimaklumi bahwa mesin ini memiliki kepadatan operasi yang relatif tinggi pada bengkel-bengkel produksi. Gergaji tangan biasa digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan yang sederhana dalam jumlah produksi yang rendah. Untuk pekerjaan-pekerjaan dengan persyaratan ketelitian tinggi dengan kapasitas yang tinggi diperlukan mesin-mesin gergaji khusus yang bekerja secara otomatik dengan bantuan mesin. Mesin-mesin gergaji memiliki konstruksi yang beragam sesuai dengan ukuran, bentuk dan jenis material benda kerja yang akan dipotong. Adapun klasifikasi mesin-mesin gergaji yang terdapat digunakan adalah sebagai berikut:

a Mesin gergaji bolak-balik (Hacksaw-Machine)

Mesin gergaji ini umumnya memiliki pisau gergaji dengan panjang antara 300 mm sampai 900 mm dengan ketebalan 1,25 mm sampai 3 mmdengan jumlah gigi rata-rata antara 1 sampai 6 gigi iper inchi dengan material HSS. Karena gerakkan yang bolak-balik, maka waktu yangdigunakan untuk memotong adalah 50%.

b Mesin gergaji piringan (Circular Saw)

Diameter piringan gergaji dapat mencapai 200 sampai 400 mm dengan ketebalan 0,5 mm dengan ketelitian gerigi pada keliling piringan memiliki ketinggian antara 0,25 mm sampai 0,50 mm. pada proses penggergajian ini selalu digunakan cairan pendingin. Toleransi yang dapat dicapai antara kurang lebih 0,5 mm sampai kurang lebih 1,5 mm.

c Mesin Gergaji pita (Band Saw)

Mesin gergaji yang telah dijelaskan sebelumnya adalah gergaji untuk pemotong lurus. Dalam hal mesin gergaji pita memiliki keunikan yaitu mampu memotong dalam bentuk-bentuk tidak lurus atau lengkung yang tidak beraturan. Kecepatan pita gergajinya bervariasi antara 18 m/menit sampai 450 m/menit agar dapat memenuhi kecepatan potong dari berbagai jenis material benda kerja.

4.2.4 Keselamatan kerja

Hal-hal yang patut dipahami dalam keselamatan kerja adalah :

  1. Mengoperasikan alat dan mesin sesuai petunjuk yang telah diberlakukan.
  2. Mematuhi jam kerja yang telah dibuat.
  3. Menggunakan alat pelindung sesuai kebutuhan.
  4. Menjaga kebersihan tempat dan peralatan serta mesin.

Tujuan dalam keselamatan kerja antara lain :

  1. Menciptakan rasa nyaman pekerja dalam ruangan bengkel.
  2. Mencegah terjadinya kecelakaan.
  3. Mengefektifkan dan mengefisienkan pekerjaan.

4.2.5 Tata Letak

Tata Letak bengkel PEDCA FTIP UNPAD ini masih terlihat berantakan dibeberapa sudut oleh alat atau mesin yang telah rusak. Walaupun begitu bengkel TMIP masih dapat dipergunakan dalam pekerjaan bengkel sederhana. Dengan perawatan kebersihan yang baik dan tata letak yang lebih teratur dapat menciptakan suasana yang lebih nyaman. Ditambah lagi dengan penambahan alat dan mesin perbengkelan untuk mempercepat pengerjaan suatu proyek.

BAB V

PENUTUP


5.1 Kesimpulan

Dengan mengetahui macam-macam jenis dan fungsi alat kerja dan mesin perbengkelan dapat meningkatkan pengetahuan tentang perbengkelan dan dapat dipergunakan dalam proses kerja perbengkelan dengan lebih baik dan tepat.

Tentunya dalam pengerjaan bengkel yang penuh resiko kecelakaan, keselamatan kerja menjadi hal utama dalam proses pengerjaan dalam perbengkelan. Dengan mematuhi segala aturan dan menjaga setiap alat kerja mesin dengan perawatan yang rutin dapat mengurangi resiko kecelakaan itu sendiri. Karena sedikit keteledoran dapat berdampak sangat buruk baik bagi pekerja itu sendiri maupun penyelesaian pekerjaan dalam bengkel.

5.2 Saran

Adapun saran yang dapat diberikan dalam praktikum kali ini adalah :

  1. Perawatan yang rutin pada tiap alat dan mesin kerja.
  2. Penjagaan kebersihan dan keteraturan tata letak alat dan mesin kerja.
  3. Penambahan kelengkapan alat dan mesin kerja.

DAFTAR PUSTAKA

http://syairpuisiku.wordpress.com/2008/10/30/pengantar-kuliah-perbengkelan-

pertanian/ diakses pada tanggal 27 Februari 2011 pukul 21.55 WIB

http://b0cah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=828&Itemid=40

diakses pada tanggal 27 Februari 2011 pukul 21.55 WIB

http://zona-orang-gila.blogspot.com/2010/01/peralatan-yang-dibutuhklan-untuk.html

diakses pada tanggal 27 Februari 2011 pukul 21.55 WIB

http://akmalindra.wordpress.com/2009/06/18/mesin-bubut/

diakses pada tanggal 27 Februari 2011 pukul 21.55 WIB

http://agusagustinus.blogspot.com/2010/04/mesin-bubut.html

diakses pada tanggal 27 Februari 2011 pukul 21.55 WIB

http://mesin2001.blogspot.com/2007/05/mesin-bubut.html

diakses pada tanggal 27 Februari 2011 pukul 21.55 WIB

Yusuf, Asep, STP. 2009. Modul Praktikum Perbengkelan Pertanian. Jatinangor:

Jurusan Teknik dan Manajemen Industri Pertanian Fakultas Teknologi

Industri Pertanian Universitas Padjadjaran.


About Olovan

Ordinary people with extraordinary life

Posted on March 11, 2011, in Perbengkelan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: