Cone Index dan Shear Strenght

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIKA DAN MEKANIKA TANAH

( Cone Index dan Shear Strenght)

Disusun oleh :

Kelompok 3

Heidy Ahadianti         240110090078

Daniel Olovan             240110090084

Saeful Uyun                240110090089

Falah Azizi                  240110090095

Gina Yunitasari           240110090109

Asisten Dosen :

Mauludin Azis

Edo Ramadhan

Muhammad Rifqi

Wony Andika B

Wica Elvina

 

 LABORATORIUM FISIKA MEKANIKA TANAH

JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2011


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Mengetahui keadaan tanah merupakan salah satu tahapan penting dari beberapa proses lainnya dalam pengolahan tanah, karena tanah yang akan digunakan baik itu untuk bercocok tanam,membangun gedung,dll. Selain itu kita juga perlu untuk mengolah tanah yang akan kita gunakan, Pengolahan tanah pada umumnya merupakan cara untuk meningkatkan kesuburan tanah dan menjaga kondisi tanah agar tidak rusak,maka dari itu slah satu cara untuk mengetahui bagaimana kondisi tanah.

            Pada praktikum ini diperkenalkan suatu alat pengukur kekuatan geser tanah sehingga mahasiswa dapat mengetahui sifat dan karakteristik suatu sampel tanah. Cone penetrometer adalah  alat yang digunakan untuk mengukur kekuatan suatu tanah. Dengan menggunakan alat ini kita dapat mengetahui karakteristik dari suatu tanah yaitu kekuatan tanah tersebut, sehingga kita dapat menentukan apakah tanah tersebut cocok digunakan untuk dijadikan suatu areal pertanian atau tidak.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah :

  1. Mahasiswa mengetahui apa yang dimaksud dengan shear strength dan cone index.
  2. Mahasiswa dapat mengukur dan menentukan besarnya cone index dan shear strength.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1    Shear Strenght

Kekuatan geser tanah (Shear Strenght) yaitu gaya maksimum yang dapat ditahan oleh material tanah tepat sebelum terjadi pergeseran antar partikel tanah, dipengaruhi oleh total panjang akar, diameter akar, tekstur tanah dan kadar air tanah. Kekuatan geser tanah dapat juga merupakan perlawanan internal tersebut dibagi dengan satuan luas terhadap pergeseran sepanjang bidang geser dalam tanah.

Kekuatan geser suatu massa tanah merupakan perlawanan internal tanah tersebut per satuan luas terhadap keruntuhan atau pergeseran sepanjang bidang geser dalam tanah yang dimaksud (Braja M. Das, Mekanika Tanah, jilid 2 bab 9). Mohr menyatakan bahwa keruntuhan terjadi pada suatu material       akibat kombinasi antara tegangan normal dan geser.

tf = f(s)

Pada ilmu mekanika Garis keruntuhan tersebut dapat didekati dengan sebuah garis linear.

tf = c + s tan f                                    c = kohesi

f = sudut geser internal

Untuk menentukan kemiringan bidang keruntuhan dengan bidang utama besar maka dapat digunakan persamanaan berikut.

s1 = s3 . tan2 (45+f/2) + 2c . tan (45+f/2)

s = tegangan normal =

t = tegangan geser =

Kekuatan gesek terdiri dari :

  1. Gesekan internal  : Gesekan antar partikel tanah
  2. Kohesi             : Tahanan yang terjadi karena adanya gaya tarik menarik                                     antar partikel di dalam satuan massa tanah.

Secara umum jenis tanah kuarsa seperti pasir,memiliki tahanan gesek yang sepenuhnya berasal dari esekan internal. Sedang pada tanah lainnya tahanan gesek berasal dari kombinasi gesekan internal dan kohesi. Oleh karena itu terdapat 3 tipe tanah, yaitu :

  1. Tanah butiran kuarsa yang friksional tapi tidak kohesif (Ø=45o).
  2. tanah butiran halus yang kohesif (Ø=0).
  3. tanah butiran halus kuarsa yang friksional dan kohesif.

Dari persamaan coulomb dinyatakan bahwa S ditentukan oleh total tegangan normal (s) yang bekerja pada bidang geseknya. Dalam hal ini tekanan pori (μ) dan tegangan efektif (s`) harus diperhitungkan, karena s` = s- μ

Sehingga persamaan Coulomb menjadi :

S =   s`  + (s-μ) tan Ø` = C` + s` tan Ø`

Notasi C` dan Ø` pada initinya menunjukkan bahwa yang berlaku pada persamaan coloumb adalah tegangan efektif ( s`), bukan tegangan total (s). Bila e, r, dan μ konstan, maka C`=C dan Ø`= Ø. Namun untuk tanah liat, nilai sebenarnya dari C, dan Ø sulit untuk diukur, bahkan bila diketahui pun tetap kurang cocok untuk aplikasi praktis.

Pengukuran kekuatan gesek (S) untuk tanah (C- Ø) yang ideal, C dan Ø adalah konstan dan dapat ditentukan melalui tes minimal 2 kali. Pada pengukuran langsung dapat digunakan metode  shear box  pada titik, maka akan didapat 3 lingkaran Mohr dimana garis singgung dari ketiga lingkaran tersebut akan membentuk amplop Mohr. Titik yang bersinggungan dengan ordinat S menunjukkan besarnya C dan kemiriongan garis menunjukkan besarnya Ø. Sedangkan pada tes triaxial digunakan penekanan pada sample tanah pada bagian axial dan bagian silinder sehingga didapat nilai s1 dan s3. Kedua nilai tesebut diplotkan dari titik o sehingga didapat lingkaran Mohr.

Kondisi pengukuran :

  1. Undrained test, gesekan tanpa drainase (μ)
  2. Consolidated-undrained test. Contoh tanah tanah dibiarkan mengalami proses             konsolidasi lalu gesekan diukur tanpa drainase (μ).
  3. Drained test, gesekan diukur pada kondisi tidak ada tekanan pori (d).

Pada tahanan gesek tanah pasir diilustrasikan dalam kurva tegangan /regangan yang diukur di shear box. Ketika regangan perlahan naik, tahanan gesek juga meningkat sampai ke puncaknya dan tiba-tiba jatuh (failure). Bila regangannya terus dinaikkan, tahanan gesek konstan  (ultimate stress = tegangan ultimate).

2.2    Cone Index

Cone index adalah ukuran dari resistensi tanah terhadap tindakan penetrasi dan juga sebagai indikator dari kekuatan tanah. Cone index sudah ditentukan dari 1,5 – 2 MPa sebagai indikasi yang cukup dan beberapa perlambatan pertumbuhan akar dengan berturut-turut, analisa yang berdasarkan nilai cone index terhadap kedalaman dari tiap sampel lokasinya. Cone index mempunyai hubungan linier terhadap bulk density dan dipengaruhi oleh kelembaban. Cone index merupakan besaran yang menunjukan harga ketahanan tanah terhadap gaya penetrasi dari cone (vertical) dibagi luas dasar cone. Satuan besaran ini dinyatakan dalam satuan gaya persatuan luas (kg/cm2).

            Cone index atau index kerucut suatu tanah adalah kemampuan tanah untuk menahan gaya penetrasi kerucut, dengan menggunakan penetrometer adalah suatu teknik peluang untuk mendapatkan index kerucut tanah. Di dalam praktikum ini, kita menggunakan penetrometer dengan kombinasi dari suatu sensor kapasitansi dan suatu ASAE tangkai penetrasi standar diuraikan. TDR yang dibandingkan Dengan mengkombinasikan penetrometer, didapat beberapa keuntungan, yaitu :

  • Tanggapan cepat untuk pengukuran yang berlanjut,
  • Biaya rendah dengan ketelitian yang cukup,
  • Ketahanan/ kesehatan relatif dalam kaitan dengan struktur yang geometrisnya.

Dalam kaitan dengan pemulihan geometris yang menyangkut tangkai penetrasi, suatu pendugaan yang berlebihan untuk pengukuran index kerucut didalam bidang diamati dan suatu best-fit penyamaan ditemukan melakukan koreksi kesalahan ini. Di samping itu pula, literatur menunjukkan bahwa nilai aplikasi untuk  teknik ini  tergantung betul-betul pada mutu penafsiran yang menyangkut data yang dikumpulkan itu. Oleh karena itu, studi lebih lanjut  akan mengarahkan  ke suatu pemahaman lebih dalam dalam menyangkut korelasi antar parameter fisik tanah.

Pengukuran Cone Index

1. Uji Penetrasi atau Uji Duga

Gaya atau tenaga yang diperlukan untuk menekan atau memancang sebuah alat duga kedalam tanah merupakan ukuran kekuatan tanah atau daya dukung tanah. Selama bertahun-tahun para insinyur telah mengembangkan banyak variasi alat dan cara-cara berdasarkan ide yang sederhana. Dua metode utama yang digunakan adalah uji penetrasi standard dan uji penetrasi kerucut. Uji penetrasi standar digunakan terutama di Amerika Serikat. Uji penetrasi kerucut telah dikembangkan di Belanda dan secara luas digunakan di Eropa dan bagian dunia yang lain. Akhir-akhir ini terdapat peningkatan penggunaan uji penetrometer kerucut di Amerika Serikat.

2. Uji Penetrasi Standar

Jumlah pukulan yang dibutuhkan untuk memancang sebuah alat sampel tabung belah standar sedalam 0.3 m (12 in) masuk kedalam tanah adalah tahanan penetrasi standar N. Alat sampel tabung belah standar mempunyai diameter luar 50.8 mm (2 in) dan diameter dalam 34.9 mm (13/8 in). Alat sampel ini panjangnya sekitar 0.76 mm dan dihubungkan pada batang bor ukuran A (atau lebih besar). Alat sampel diturunkan sampai dasar lubang bor dan disetel kedudukannya dengan pemancangan awal sedalam 0.15 m (6 in). Kemudian dilakukan pemancangan lanjutan masuk sedalam 0.3 m (12 in) dan jumlah pukulan yang diperlukan untuk memasukkan alat sampel lanjutan 0.3 m dilaporkan sebagai tahanan penetrasi standar N. Biasanya sebuah sampel tanah terganggu tetapi representatif didapatkan dari tabung alat sampel guna identifikasi visual. Pengujian penetrasi standar paling sering digunakan untuk mengukur kepadatan relative tanah-tanah granular. Meskipun pengujian ini kadang-kadang digunakan ukuran kuat geser tanah-tanah kohesif. Berbagai faktor dapat mempengaruhi hitungan pukulan yang diperoleh, sehingga perlu bertindak hati-hati saat mengevaluasi hasil-hasil pengujian. Dengan bertambahnya kedalaman pada tanah granular dan bertambahnya berat tanah di atasnya, maka jumlah pukulan yang diperlukan untuk memancang alat sampel akan bertambah bagi pasir dengan kepadatan relative yang sama.

Pada pengujian di bawah permukaan air, adalah penting bahwa elevasi permukaan air dalam lubang bor dibuat ada di atas permukaan air tanah. Penarikan secara cepat alat-alat pemboran akan dapat menurunkan elevasi permukaan air dalam lubang bor sampai dibawah elevasi permukaan air tanah. Air tanah yang mengalir masuk pada dasar pemboran akan mengurangi kepadatan tanah granular, sehingga menyebabkan hitungan pukulan pada pengujian penetrasi berikutnya menjadi rendah.

Hasil-hasil pengujian penetrasi standar dipengaruhi oleh banyak faktor lainnya, seperti adanya kerikil dalam tanah, penggunaan batang bor yang lebih berat dari tipe A, sepatu alat sampel yang tumpul, kecerobohan menjatuhkan palu terhadap tinggi jatuh yang dipersyaratkan, dan banyak faktor lainnya. Meskipun memiliki sifat-sifat yang agak kasar dari pengujian ini, tetapi tetap digunakan secara luas.

3. Uji Penetrasi Kerucut

Penetrometer kerucut terdiri dari kerucut 60° dengan luas dasar lingkaran 1000 mm. Kerucut ditekan masuk kedalam tanah pada kecepatan 10 sampai 20 mm/detik dengan tekanan hidrolis yang diberikan pada batang-batang bor yang memanjang dari kerucut hingga ke permukaan tanah. Tahanan penetrasi qc didapat dengan membagi gaya terukur dengan luas kerucut sebesar 1000 mm. Tahanan ini juga biasa disebut dengan cone index yaitu besarnya tekanan yang diberikan pada batang bor dibagi dengan luas dasar kerucut.

Kerucut gesekan Begeman (Begeman, 1965) mempunyai suatu selubung gesekan yang dipasang pada batang-batang dibelakang kerucut. System batang dalam dan batang luar memungkinkan gerakan kerucut sendirian ataupun kerucut dan selubung secara bersamaan. Sehingga kedua-duanya yaitu daya dukung kerucut qc dan gesekan selubung terhadap tanah fs terukur sekaligus.

Gambar 3. penetrometer kerucut

   Penetrometer ditekan masuk sampai keadaan awal pengujian dengan menggunakan batang dorong luar. Batang dorong dalam digunakan untuk menekan kerucut maju 40 mm. pada kedudukan ini suatu kait dalam batang mengkait selubung dan sekali lagi, dengan menggunakan batang dalam, dua-duanya, kerucut dan selubung maju lagi sejauh 40 mm. gaya yang terukur pada masing-masing keadaan tadi dicatat adn digunakan untuk menghitung qc dan fs. Batang pendorong luar, menempatkan unit ini pada posisi 200 mm di bawah posisi semula. Perhatikan bahwa dukungan dan gesekan yang terukur pada satu pendorongan tidak pada satu elevasi. Tekanan dukung qc terukur pada satu pendorongan harus dikorelasikan dengan gesekan fs terukur pada pendorongan berikutnya.

Selain qc dan fs, angka rasio gesekan Rf sama dengan fs/qc (%) juga dihitung. Kemudian dibuat gambar yang memperlihatkan variasi qc, fs danRf telah dikorelasikan terhadap karakteristik tanah dalam berbagaicara.

Beberapa keuntungan dari penggunaan penetrometer kerucut dibandingkan dengan prosedur pemboran konvensional dengan pengujian penetrasi standar dan pengambilan sampel dengan tabung meliputi:

  1. Diperoleh informasi berguna yang lebih akurat dan secara langsung mengenai sifat-sifat tanah.
  2. Kecepatan pendugaan yang lebih tinggi dan lebih murah
  3. interval pengujian yang lebih pendek memungkinkan mengidentifikasi lapisan-lapisan tanah bawah permukaan yang lebih teliti.
  4. Beberapa kelemahan penetrometer kerucut adalah:
  5. Tidak ada sampel bahan bawah permukaan yang diperoleh.
  6. Kondisi air tanah tidak dapat segera dievaluasi.
  7. prosedur terbatas bagi tanah-tanah yang tidak mengandung batuan besar atau lapisan-lapisan keras yang menghalangi penetrasi kerucut.
  8. Pada beberapa tanah, interpretasi data tahanan kerucut ada kemungkinan sulit.

Informasi tambahan dari pemboran-pemboran tanah secara konvensional. Data dari pemboran konvensional, yaitu hitungan pukulan penetrasi standar, kuat geser bebas dari alat sampel tabung, identifikasi visual tanah dan data permukaan air adalah vital untuk interpretasi yang akurat dari data penetrometer kerucut.

Tanah yang produktif harus menyediakan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan akar tanaman. Faktor lingkungan tersebut menyangkut berbagai karakteristik fisik tanah seperti ketersediaan air, aerasi, struktur tanah yang baik, disamping harus mampu menyediakan unsur hara bagi tanaman (Saufan, 2002).

Kadar air tanah merupakan tingkat kelembaban tanah atau kandungan airi tanah yang dapat dinyatakan dalam berbagai cara, yaitu relative terhadap :

  1. massa bagian padat
  2. massa total
  3. volume bagian padat
  4. volume total
  5. volume pori

Untuk perbandingan massa air terhadap massa bagian padat kering, sering juga disebut “kandungan air gravimetrik” dalam satuan persen (%). Yang dimaksud dengan tanah kering adalah tanah yang telah dikeringkan dalam oven pada temperature 105˚ – 110˚ C hingga beratnya konstan. Kandungan air tanah mineral dalam keadaan jenuh berkisar antara 25-60 % tergantung dari berat volume tanah tersebut. Kadar air jenuh tanah berliat lebih tinggi dari tanah berpasir. Sedangkan pada tanah organik seperti gambut, kandunagn air jenuh dapat lebih dari 100 % (Arsyud dkk, 1975)

2.3 Penetrometer

            Alat ini terdiri dari dua jenis yaitu dinamik penetrometer dan static penetrometer. Penetrometer (Dynamic Cone Penetrometer) pertama kali ditemukan dan telah dikembangkan oleh almarhum Prof.George F.Penabur pada tahun 1959,alat ini menggunakan bahan bahan yang terbuat dari baja yang kira kira beratnya sebesar 6,8 kg panjangnya sebesar 153 cm, Dan memiliki kemampuan untuk melakukan penetrasi kedalam tanah kira kira sebesar 3,8 cm dan memiliki diameter dari kerucutnya sebesar 450.Selain tu ada juga jenis Penetrometer (Static Cone Penetrometer), Alat ini pertama kali ditemukan di Belanda, alat ini memiliki diameter kerucutnya sebesar 600 dan untuk mengukur lahan dengan luas 1,5 cm2 dan dari masa ke masa peralatan ini semakin berkembang dan semakin canggih. Saat ini harga sebuah penetrometer yang dijual di pasaran adalah $ 200, Alat ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama, Yaitu

–          Penetrometer kerucut mekanis

–          Penetrometer kerucut elektris

–          Piezocone Penetrometer

Alat ini mempunyai kekuatan/gaya dorong dari 20 sampai 200 Kn. Suatu penetrometer terdiri dari suatu kerucut baja tahan karat lingkar dengan besar sudut sebesar 30 derajat, Suatu poros penggerak dan suatu alat pengukur tekanan. Penetrometer pada umumnya terdiri dari dua jenis ukuran kerucut, satu dengan suatu garis tengah dasar 0.798 ( 3/4) inci untuk lahan yang lembut dan satu lagi dengan suatu garis tengah dasar 0.505 ( 1/2) inci untuk lahan yang sulit/keras. Ujung/Persenan ukurannya lebih luas dibanding poros penggerak untuk membatasi friksi batang dengan lahan Poros penggerak pada umumnya lulus tiap-tiap 3 inci untuk mengijinkan penentuan kedalaman compaction. Alat pengukur tekanan menandakan adanya tekanan di dalam tanah yang memiliki satuan inci.


Gambar dari penetrometer dan bagian bagiannya

                                     

Ujung dari penetrometer sendiri memiliki berbagai macam jenisnya seperti terlihat pada gambar diatas,ujng penetrometer itu sendiri memiliki fungsi yang berbeda beda,sesuai dengan tujuan penggunannya, misalnya apabila ujung penetrometer tersebut runcing biasanya akan mengukur tanah yang dinamis atau biasa disebut (Dynamic Penetrometer Test) dan apabila ujung penetrometer tersebut tumpul,maka biasanya akan digunakan untuk mengukur tanah yang statis atau dapat disebut (Static Penetrometer Test) Suatu  penetrometer terdiri dari bagian bagian seperti kerucut,lengan penetrometer,dan sensor untuk mengukur nilai cone index dari suatu tanah yang akan kita ukur. Kerucut Penetrometer statis dapat digunakan untuk mengevaluasi konsistensi lahan, tingkatan compaction suatu lahan, dan kapasitas lahan tersebut. Kerucut penetrometer statis ini dikembangkan Untuk mengukur jenis lahan yang berserat, terutama lahan yang sangat lembut, ke kedalaman 30 kaki. Alat ini menggunakan suatu 60° kerucut dengan suatu area 1.5 cm². Suatu kerucut opsional dengan suatu 3 cm² area dapat untuk digunakan di lahan yang sangat lembut. Semakin lama,alat penetrometer ini semakin berkembang,dari pertama kali ditemukan sampai saat ini alat ini terus berevolusi sehingga memudahkan penggunanya untuk menggunakannya.

BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

 

3.1    Waktu dan Tempat

Hari / Tanggal         :     Senin 2 Mei 2011

Waktu                     :     08.00 – 10.00

Tempat                    :     Depan gedung dekanat FTIP

3.2  Alat dan Bahan

Alat :

  • Cone Penetrometer
  • Cangkul
  • Shear ring (Shear strength)
  • Meteran

Bahan :

  • Lahan dengan luasan tertentu

3.3  Prosedur Praktikum

       A.   Pengujian Shear Strength :

  1. Bersihkan lahan percobaan dari serasah yang ada di atasnya dengan cara dicangkul.
    1. Ratakan  tanah yang sudah dibersihkan dengan cangkul.
    2. Memasang Shearing Ring pada ujung spindle.
    3. Menekan alat tersebut dengan beban yang ditentukan lalu putar lengan torsi. Putarlah ring secara perlahan.
    4. Setiap beban per 10 kg,baca dan mencatat nilai shear strength maksimum pada jarum penunjuk sebelum jarum tersebut turun.
    5. Mengulangi kegiatan pada kedalaman 10 cm  pada tiga lokasi yang berbeda
    6. Menahan geser di hitung dengan rumus Faktor konversi untuk menjadi  Kpa dari   Kgf / cm2

Kpa=

B.           Pengujian Cone Index

  1. Bersihkan lokasi pengujian dari serasah yang ada di atasnya dengan cara dicangkul.
  2. Pasangkan cone pada cone penetrometer dengan luas cone 2 cm2(standar percobaab)
    1. Letakkan penetrometer pada titik pengukuran.
    2. Tekan andel cone penetrometer sehingga kerucutnya masuk menembus lapisan tanah dengan kecepatan konstan. Catat beban yang terbaca pada jarum penunjuk untuk setiap kedalaman 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35, 40 cm.
      1. Lakukan pengulangan sebanyak 3 kali pada lokasi yang berbeda.
      2. Hitung Cone Index dengan cara beban yang terbaca dibagi luas permukaan kerucut yang digunakan,kemudian konversi kedalam satuan kPa.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil

Pengukuran Shear Strenght dan Cone Index dilakukan sebanyak tiga kali pada tingkat kedalam yang berbeda yaitu pada permukaan tanah dan pada kedalaman tertentu.

  1. A.  Shear strength

Beban (kg)

Shear Strenght (kg)

Shear Strenght (KPa)

Titik 1

Titik 2

Titik 3

Titik 1

Titik 2

Titik 3

5

0.25

0.1

0.2

12.25

4.9

9.8

10

0.3

0.25

0.3

14.7

12.25

14.7

15

0.4

0.3

0.4

19.6

14.7

19.6

20

0.5

0.5

0.5

24.5

24.5

24.5

25

0.6

0.6

0.65

29.4

29.4

31.45

  • Cara perhitungan :

A = 2cm2                              P (kg) =

  • Grafik

Grafik 1. hubungan antara beban dan shear strenght titik pertama

              Grafik 2. hubungan antara beban dan shear strenght titik kedua

Grafik 3. hubungan antara beban dan shear strenght titik ketiga

  1. B.  Cone Index

Kedalaman (cm)

Tekanan (KN)

Tekanan (KPa)

Titik 1

Titik 2

Titik 3

Titik 1

Titik 2

Titik 3

5

380

80

80

126.6×104

26.6×104

26.6×104

10

360

100

80

120×104

33.3×104

26.6×104

15

240

80

100

80×104

26.6×104

33.3×104

20

240

100

120

80×104

33.3×104

40×104

25

200

160

320

66.6×104

53.3×104

106.6×104

30

180

160

380

60×104

53.3×104

126.6×104

35

220

160

500

73.3×104

53.3×104

166.6×104

40

240

140

580

80×104

46.6×104

193.3×104

Cara perhitungan :

A= 3cm2

KN                  Kpa

Grafik 4.  hubungan antara kedalaman dan tekanan titik pertama

Grafik 5. hubungan antara kedalaman dan tekanan titik kedua

Grafik 6. hubungan antara kedalaman dan tekanan titik ketiga

4.1 4.1 Pembahasan

Pada praktikum ini praktikan mencari nilai shear strength dan cone index, dimana shear strength adalah gaya maksimum yang dapat ditahan oleh material tanah sedangkan cone index adalah ukuran dari resistensi tanah terhadap tindakan penetrasi dan juga sebagai indicator dari kekuatan tanah. Pengukuran Shear Strenght dan Cone Index dilakukan sebanyak tiga kali pada tingkat kedalam yang berbeda yaitu pada permukaan tanah dan pada kedalaman tertentu.

Dari data yang didapat diketahui bahwa semakin besar beban yang diberi maka semakin besar juga nilai shear strength nya. ini menunjukan tingginya kerapatan tanah, nampak pada persamaan besarnya kuat geser meningkat dengan bertambahnya nilai kohesi, dimana ketika tanah diberi beban dan beban tersebut terus bertambah maka gaya tarik antar molekul yang sama semakin kuat sehingga menyebabkan kepadatan tanah, pertambahan shear strength juga dipengaruhi oleh semakin besarnya sudut geser.Jika tanah dalam keadaan jenuh air kemudian diberi beban besar maka akan terjadi keruntuhan tanah (erosi), disebabkan adanya beban yang melebihi nilai shear strengthnya. Kemudian diubah dari kg menjadi KPa dengan menggunakan   rumus P (kg) = . Dari data grafik hubungan antara beban dan shear strength pada titik pertama yang mendekati nilai 1 digunakan grafik eksponen dengan R2 = 0.994, pada titik kedua digunakan grafik power dengan R2 = 0.980 dan pada titik yang ketiga digunakan grafik linear dengan R2 = 0.994.

Sedangkan untuk mencari nilai cone index digunakan rumus . sama halnya seperti shear strength pada cone index ini pun dibuat kedalam bentuk grafik. Pada titik pertama menggunakan grafik logaritma dengan R2 = 0.762, titik yang kedua digunakan grafik power dengan R2 = 0.672 dan pada titik yang ketiga digunakan grafik exponent dengan R2 = 0.929.

Dari grafik diatas didapat hubungan antara cone index dan kedalaman adalah persamaan parabola, dimana nilai cone index tidak selalu bertambah besar dengan bertambahnya kedalaman, ini menunjukan  sifat fisik tanah, mengenai kerapatan tanah/bobot isi tanah, tanah tersebut ternyata pada kedalaman tertentu memiliki nilai bobot isi yang berbeda, ketika nilai cone index yang didapat turun atau semakin kecil maka bobot isi tanah tersebut semakin kecil dan kadar air semakin besar, begitu juga sebaliknya nilai cone index yang besar bobot isi juga semakin besar dan kadar air kecil.

Pada praktikum kali tidak terlalu banyak hambatan, hanya saja kita harus leliti dalam menggunakan alat dan bagaimana cara membaca alatnya agar hasilnya pun sesuai. Selain itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil juga, contohnya seperti jenis tanah yang di uji, kekuatan tanah.

BAB V

PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

Setelah melakukan praktikum dapat disimpulkan, bahwa :

  • Semakin besar beban yang diberi maka semakin besar juga nilai shear strength nya.
  • Nilai shear strength menunjukan beban maksimum yang dapat ditahan oleh tanah sebelum tanah tersebut mengalami keruntuhan.
  • Tanah tersebut memiliki bobot isi yang berbeda.
  • Nilai cone index tidak selalu bertambah besar ketika kedalamannya bertambah.
  • Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan geser tanah.

5.2 Saran

Adapun beberapa saran untuk praktikum selanjutnya :

  • harus diperhatikan ketelitian dalam membaca nilai shear strength, karena jarum akan cepat turun setelah mencapai nilai maksimum.
  • Pembacaan juga harus cepat dan teliti karena jarum pada cone index juga cepat turun setelah mencapai nilai maksimum.
  • Alat –alat yang dipakai hendaknya diperiksa dahulu sebelum digunakan dan harus dalam keadaan bersih.
  • Jumlah alat yang digunakan harus memadai agar paraktikum dapat berjalan lebih efisien.

DAFTAR PUSTAKA

           http://www.google.com/Hasil Penelusuran Gambar Google untuk http–environ_nosc_mil-Programs-GeoVis-images-SCAPSART_JPG.htm diakses pada tanggal 6 Mei 2011 pukul 20.15

http://www.google.com/Hasil Penelusuran Gambar Google untuk http–cropsoil_psu_edu-extension-facts-img-af63fig2_jpg.htm diakses pada tanggal 6 Mei 2011 pukul 20.00

Moetangad K., Ade. 2006. Fisika – Mekanika Tanah. Keteknikan Dan Teknologi              Pertanian. FTIP. Unpad

Sarief Saifudin. 1986. Fisika-Kimia Tanah Pertanian. Pustaka Buana.Bandung

Posted on May 22, 2011, in Fisika Mekanika Tanah. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: